Archive | Agustus 2011

Model Pelestarian Arsitektur Berbasis Teknologi Informasi

Paper ini dimuat pada Jurnal DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur), Vol 32, No 2 (2004)

Studi Kasus: Arsitektur Tradisional Suku Banjar

Bani Noor Muchamad dan Ira Mentayani

Staff Pengajar Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur -Universitas Lambung Mangkurat

ABSTRAK

Tulisan ini membahas tentang upaya mengembangkan konsep pelestarian dalam kaitannya dengan kemajuan teknologi informasi (IT). Dalam implementasinya, upaya ini dapat diwujudkan dengan mengembangkan model program aplikasi. Sedangkan untuk kasus pelestarian arsitektur, peneliti memilih arsitektur tradisional Suku Banjar; Rumah Bubungan Tinggi. Model program aplikasi mencakup penyajian teks, image, audio, dan video untuk mencapai tujuan pelestarian.

Kata kunci: pelestarian, teknologi informasi, model, program aplikasi.

lengkapnya dapat diunduh di http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ars/article/shop/16180/16172


Konsep Eco Living Style pada Permukiman Tepi Sungai di Kota Banjarmasin

Paper ini disertakan pada Senvar 2011-Unibraw Malang

Abstrak

Banjarmasin merupakan kota yang berbasis budaya perairan (water culture), hal ini bisa ditelusuri dari catatan sejarah perkembangan Kota Banjarmasin. Banyaknya sungai yang mengaliri kota ini telah ada secara alami, ditambah juga adanya kanal-kanal (saluran air/kali) dan anak sungai yang banyak dibuat oleh pemerintah Belanda pada jaman penjajahan. Kanal-kanal tersebut dibuat sebagai antisipasi banjir karena kondisi topografi Kota Banjarmasin yang rendah dan berindikasi akan mengalami naiknya permukaan air laut. Sungai juga menjadi lokasi pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di beberapa titik di sepanjang tepian sungai. Besarnya fungsi sungai dan kayanya sejarah yang tersimpan disana sehingga bisa dikatakan pertumbuhan dan perkembangan Kota Banjarmasi dapat ditelusuri dari pertumbuhan dan perkembangan permukiman tepi sungainya. Baca lebih lanjut

Jejak Hubungan Arsitektur Tradisional Suku Banjar dan Suku Bakumpai

  

Paper ini dimuat pada Jurnal DIMENSI Petra (Jurnal Teknik Arsitektur), Vol 36, No 1 (2008)

Ira Mentayani

^^Abstrak^^

Penelitian ini didasari fenomena adanya rumah tradisional suku Banjar di wilayah kediaman suku Bakumpai. Penelitian ini membandingkan antara 15 sampel rumah tradisional di wilayah Kota Marabahan dan 62 rumah tradisional di wilayah Kota Banjarmasin. Dari hasil pengamatan lapangan, diperoleh hasil bahwa terdapat 5 (lima) tipe rumah tradisional yang sama di kedua wilayah. Ke-5 tipe rumah tradisioanl tersebut merujuk pada referensi 11 (sebelas) tipe rumah tradisional yang ada di wilayah suku Banjar. Lima tipe rumah tersebut adalah (1) tipe Bubungan Tinggi, (2) tipe Balai Bini, (3) tipe Palimasan, (4) tipe Cacak Burung, dan (5) tipe Joglo.

Baca lebih lanjut

Analisis Asal Mula Arsitektur Banjar, Studi Kasus : Arsitektur Rumah Tradisional Bubungan Tinggi

Paper ini dimuat pada Jurnal TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN, Nomor 1 Volume 10 – Januari 2008

Ira Mentayani

^^Abstrak^^ 

Penelitian ini bertujuan untuk menemukenali asal mula arsitektur tradisional Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Dengan metode analisis deskriptif berdasar literatur yang ada dan bukti empiris, maka dapat ditemukankenali asal mula arsitektur Masyarakat Banjar. Arsitektur yang diangkat sebagai perbandingan adalah arsitektur tradisional Rumah Bubungan Tinggi. Rumah Bubungan Tinggi adalah arsitektur tradisional Masyarakat Banjar yang berasal dari arsitektur masyarakat Melayu yang ada di pesisir, yang telah terbentuk jauh sebelum terbentuknya Masyarakat Banjar. Dalam perkembangannya, kebudayaan Suku Dayak dan Jawa, serta ajaran Islam turut pula mempengaruhi. Secara fisik, kondisi lingkungan alam menjadi faktor utama bentuk/wujud fisik.

Kata kunci : Asal mula, Masyarakat Banjar, Rumah Bubungan Tinggi.

Baca lebih lanjut

MENGGALI MAKNA ARSITEKTUR VERNAKULAR: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas

Artiket ini dimuat di LANTING Journal of Architecture, Volume 1, Nomer 2, Agustus 2012, Halaman 68-82 ISSN 2089-8916

 

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi minimnya sumber referensi terkait arsitektur vernakular bagi para mahasiswa dan praktisi arsitektur yang berdampak pada pendidikan arsitektur dan profesi arsitek. Untuk itu tulisan ini bertujuan menggali kembali sumber referensi arsitektur vernakular yang ada untuk memperoleh konsep yang mampu memperkaya pemahaman tentang arsitektur vernakular. Penelitian ini menggunakan berbagai pustaka/literatur dan beberapa fakta empiri arsitektur vernakular yang ada sebagai data. Dengan analisis konten terhadap berbagai pustaka/literatur yang ada maka dirumuskanlah sebuah konsep arsitektur vernakular yang mencakup 3 elemen: yaitu ranah, unsur, dan aspek-aspek vernakularitas.

Kata kunci : arsitektur vernakular, teori arsitektur, vernakularitas.

IMG_2401

fullpaper bisa di unduh di http://ejournal.unlam.ac.id/index.php/lanting/article/view/75/59

Anatomi Ruang Rumah Tradisional Banjar ; Studi Kasus Rumah Bubungan Tinggi

Ira Mentayani, Bani Noor Muchamad, MT.

ABSTRAK

Tulisan ini ditujukan untuk menguraikan tipe-tipe arsitektur tradisional Banjar di Kalimantan Selatan. Dengan metode analisis deskriptif, diperoleh gambaran anatomi ruang pada tipe arsitektur Rumah Bubungan Tinggi. Arsitektur Rumah Bubungan Tinggi sendiri adalah salah satu tipe arsitektur tradisional Banjar yang ada. Dari anatomi ruang tipe Rumah Bubungan Tinggi, diharapkan diketahui juga anatomi ruang untuk tipe lainnya, baik kesamaan maupun perbedaannya. Tipe Rumah Bubungan Tinggi dipilih karena merupakan rumah tinggal raja/sultan. Baca lebih lanjut

Penataan Permukiman Tepian Sungai Berbasis Mitigasi Struktural ; Studi Kasus Permukiman Tepian Sungai di Kota Banjarmasin

   

Paper ini dimuat pada prosiding Seminar Nasional Mitigasi dan Ketahanan Terhadap Bencana pada FT.Univ.Sultan Agung-Semarang, 26 Juli 2011

Ira Mentayani

                                                              ^^Abstrak^^

Kawasan permukiman tepian sungai di Kota Banjarmasin berbatasan langsung dengan komponen daratan dan perairan yang secara ekologis berfungsi sebagai penyangga berkelanjutannya kehidupan perkotaan. Namun, akibat terbengkalainya kawasan tepian sungai ini dalam waktu yang relatif cukup lama memunculkan berbagai permasalahan sosio-kultural dan fisik-spasial perkotaan yang sangat kompleks. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain adalah : jalur pencapaian kearah tepian sungai yang tidak menerus, pemandangan kearah tepian sungai yang terputus, ruang-ruang yang tidak terurus, tidak adanya orientasi kawasan, infrastruktur yang tidak memadai dan bangunan-bangunan bersejarah dimasa kejayaan kota tepian sungai yang terbengkalai.

Baca lebih lanjut